Sampah

Sampah adalah material sisa suatu aktivitas yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan menurut derajat keterpakaian dan kegunaannya. Makin majunya ilmu pengetahuan akan makin banyak material ditemukan kemanfaatannya bagi manusia, dan dengan itu akan makin sedikit material sisa yang dikatagorikan sampah. Sampah organik bisa digunakan pada pembuatan pupuk organik, berguna bagi pemberian zat hara tanaman. Sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi baru seperti minyak bakar dan energi panas.

4 Agt 2014

Peluang Usaha Lele di Bank Sampah TPS 3R Berbasis Reaktor Konversi Musnah

Hasil bersih (netto) pengelolaan sampah di TPS 3R menggunakan reaktor konversi musnah (RKM) BiophoskkoGas ( Biogas- Pirolisis-Komposter-Gasifier), disamping energi (biogas dan minyak bakar) yang dihabiskan menjalankan mesin (mandiri energi tanpa BBM) adalah (1) biji plastik hasil pencacahan, (2) cairan organik serta (3) pupuk padat.

Materi organik cair sangat efektif menumbuhkan plankton dan zooplankton perairan, dengan itu akan sangat menguntungkan bila diusahakan budidaya lele. Diketahui, jenis ikan ini tahan hidup dengan air terbatas, serta memakan protein dari semua jenis ikan dan hewani, termasuk sisa makanan manusia.

Di berbagai daerah lele dikenal sebagai ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Gayo dan Aceh), ikan sibakut (Karo), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar), ikan cepi (Sulawesi Selatan), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah) atau ikan keli (Malaysia), ikan 'keli' untuk lele yang tidak berpatil sedangkan disebut 'penang' untuk yang memiliki patil (Kalimantan Timur).

Membangun usaha lele (catfish) berbasis pengelolaan sampah memberikan keuntungan nyata, yang dengan itu meneguhkan paradigma bahwa mengelola sampah adalah peluang usaha.

Pemenuhan pakan tambahan lele yang dibudidayakan dalam media organik, limbah (slurry) biogas, adalah dari jenis sampah hewani sisa makanan manusia dari TPS 3R. Sisa makanan dan masak rumah makan, restoran, bahkan rumah tangga dapat diberi insentif agar menyetorkannya ke Bank Sampah secara terpilah. Khusus jenis sisa makanan hewani (tulang ayam, ikan, sisa seafood), di Bank Sampah Posko Hijau - Green Phoskko Organic Product Bandung misalnya, dihargai Rp 5.000/ kg. 

Nugget dan Krupuk dari bahan Lele
Fillet Lele

Disamping menguntungkan usaha lele (bandingkan dengan pakan pelet Rp 14.000/kg), mekanisme penyetoran sampah hewani akan menyelematkan siklus protein agar kembali memberi manfaat (dikonsumsi manusia) melalui berkembangnya ikan lele (bukan dimakan kucing dan hama tikus). Dan, lingkungan (rumah, restoran, dapur2, TPS, kampung) pun akan bersih dari berkembangnya populasi tikus. Diketahui, kini populasi tikus telah melebihi ambang batas merusak sawah dan merugikan manusia akibat predator alamiahnya (ular dan elang) makin langka (*)

Analisa R/L Pengolahan Sampah dengan RKM BiophoskkoGas TPS 3R

1 komentar:

  1. Penelitian dilakukan oleh bagian bedah RS Umum, Dr. Saiful Anwar Malang. Hasil uji coba menunjukkan bahwa pemberian 2 kg ikan gabus masak setiap hari kepada pasien pascaoperasi dapat meningkatkan albumin dari kadar yang rendah (1,8 g/dl) menjadi normal.

    Penelitian juga dilakukan oleh Prof. DR. Dr. Nurpudji A. Taslim dari Universitas Hasanudin, Makassar, menunjukkan kadar albumin pasien di RS Wahidin Sudiro Husodo Makassar, Sulawesi Selatan, meningkat tajam setelah beberapa kali mengonsumsi ikan gabus. Hal tersebut mempercepat kesehatan pasien.

    Selain itu ada penelitian yang telah dilakukan di Universitas Hasanudin juga menunjukkan pemberian ekstrak ikan gabus selama 10-14 hari dapat meningkatkan kadar albumin darah 0,6-0,8 g/dl. Para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang diberi ekstrak ikan gabus secara teratur, dapat meningkatkan kadar albumin di dalam darah, sehingga berat badannya akan naik secara perlahan dan ketahanan tubuhnya meningkat.

    Dan yang paling sering dijadikan rujukan atas penelitian albumin ikan gabus atau ikan kutuk adalah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Eddy Suprayitno, MS, dari Universitas Brawijaya, Malang, telah membuktikan kemampuan ekstrak albumin dari ikan gabus untuk menggantikan serum albumin impor. Harga serum albumin impor mencapai jutaan rupiah per 10 milimeter. Padahal, dalam satu kali operasi paling tidak dibutuhkan 30 milimeter. Penggunaan ekstrak ikan gabus ini diharapkan dapat mengurangi biaya operasi pembedahan yang selama ini dikenal sangat mahal. Karena tanpa albumin; sel-sel di dalam tubuh akan sulit melakukan regenerasi, sehingga cepat mati dan tidak berkembang. Albumin inilah yang juga berperan penting dalam proses penyembuhan luka.

    BalasHapus

Silahkan pemikiran anda dituliskan !!