Sampah

Sampah adalah material sisa suatu aktivitas yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan menurut derajat keterpakaian dan kegunaannya. Makin majunya ilmu pengetahuan akan makin banyak material ditemukan kemanfaatannya bagi manusia, dan dengan itu akan makin sedikit material sisa yang dikatagorikan sampah. Sampah organik bisa digunakan pada pembuatan pupuk organik, berguna bagi pemberian zat hara tanaman. Sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi baru seperti minyak bakar dan energi panas.

1 Jan 2011

Mekanisasi, penggantian Bedeng dengan Rotary Kiln, pada Pengolahan Sampah di Kota


Metoda bedeng terbuka (open windrows), pada pembuatan kompos di pertanian dan perdesaan, harus diakui bukan solusi tepat bagi tujuan pengolahan sampah di perkotaan. Terutama, bagi pengolahan sampah satuan skala kecil, tersebar di berbagai sumber sampah berada dan timbul, atau pengelolaan sampah yang mendekati tempat manusia berada. Kebutuhan lahan, bagi pembuatan bedeng 3x4 m2 pada tiap 3 m3 (kubik) atau berat 1 ton sampah di kali jumlah 60 hari proses penguraian,  mencapai sekurangnya 720 m2 bagi target pengelolaan sampah 1 ton/ hari secara terus menerus (kontinyu). 

Lahan seluas itu, bagi fasilitas umum maupun sosial suatu kawasan komersial, jelas sangat mahal. Tidak layak bagi kepentingan pengelolaan timbulan sampah 3 m3 dari tiap 1000 jiwa atau sekitar 200 rumah, yang dihasilkan suatu pemukiman atau kawasan komersial (pasar, hotel, sekolah, pabrik, apartemen). Investasi mahal, keluaran polutan (bau, serangga dan cairan lindi) dari sampah yang ditumpuk balik dalam jejeran bedeng-bedeng (open windows),  kesemua itu wajar jika kehadiran instalasi pengelolaan sampah secara tradisional, kemudian,  menimbulkan penolakan (resistensi) masyarakat sekitar. 

Metoda maupun teknik, yang sukses di pedesaan dan pertanian, dalam pembuatan kompos, belumlah menjadi jaminan menghasilkan sukses dan keberterimaan sama ketika dilaksanakan bagi ikhtiar pengelolaan sampah di perkotaan. Penerapan metoda bedeng terbuka (open windrows), dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi di kota, telah menuntut lahirnya teknik-teknik baru yang efisien dalam hal keperluan luasan lahan, waktu proses penguraian material organik, keperluan tenaga kerja serta minimnya keluaran polutan. 

Teknik menggunakan tabung  yang dapat berputar (rotary kiln), digerakan oleh (1) tenaga manusia (manual) mengayuh pedal (RKM 1000L), atau (2). menggunakan mesin penggerak engine (RKE 3000L) serta, (3). menggunakan elektro motor listrik PLN (RKE 1000L) kini menjadi pilihan, Keperluan lahan bagi target 3 m3/ hari sampah, sebagaimana diatas, hanya 1,65 m x 2,9 m dikali 5 (lima) hari penguraian (dekomposisi), atau setara dengan 23,9 m2. Jauh lebih kecil, atau hanya 3 % dibanding 720 m2 diatas. 
 
Demikian juga kebutuhan tenaga kerja operator, bagi pengerjaan pengelolaan kadar air, PH, temperatur, penjagaan porositas dan pengerjaan pengelolaan intensitas aerasi jauh berkurang. Disamping rendah atau hilangnya keluaran polutan karena pengaturan cairan lindi pada kondisi aerobik, penggunaan  tabung sebagai media proses penguraian, juga memberikan keluaran baru berupa larutan organik, suatu produk bernilai yang memberikan pendapatan ekonomi. Rotary kiln, sebagai usaha menerapkan mekanisasi sepenuhnya pada proses pembuatan kompos atau kegiatan pengolahan sampah organik, telah merobah metoda bedeng (open windrows) menjadi layak sosial, ekonomi, teknik dan lingkungan guna dilaksanakan di perkotaan dan dekat pemukiman masyarakat. 

Peranan mekanisasi penuh pada pengomposan, antaranya dengan penambahan alat fermentasi ( Rotary Kiln) hasil seratus persen di dalam negeri ini, telah memberi banyak keuntungan dan manfaat baru bagi pembuatan kompos dalam kepentingan pengolahan sampah di kota. Memberikan pencitraan higienis suatu pengelolaan sampah, di lokasi dekat aktivitas manusia penimbul sampahnya berada, serta memberikan pendapatan ekonomi kepada pengelolanya, diharapkan mendorong pada lahirnya entitas bisnis kecil, yang membuka instalasi pengelolaan sampah kota (IPSK) dalam memberikan layanan publik pada tiap skala kawasan komunal


Mekanisasi, penggantian bedeng dengan rotary kiln pada pengolahan sampah di kota, adalah keniscayaan bagi kepentingan mewujudkan pengelolaan sampah yang berbasis kepada kekuatan masyarakat (komunitas) untuk mandiri. Masa depan pengelolaan sampah, bukan lagi suatu biaya jasa dan pembelian alat mesin yang harus kita bayar kepada korporasi asing (impor), yang akhirnya kemudian jadi beban masyarakat. Sampah, bagi masa depan kita, adalah sumber daya baru bagi upaya menumbuhkan ekonomi lokal, setelah sumberdaya ekonomi lainnya, karena kekuatan liberalisasi, ketidakarifan dan kepentingan pemerintahan berwenang maupun kelalaian kita semua, kini banyak dikuasai korporasi asing.     

Memang benar, mekanisasi penuh dengan penggunaan Rotary Kiln pada pengomposan akan membutuhkan tambahan investasi mesin. Namun, dibanding dengan  cara tradisional atau bedeng terbuka (open windrows), masih memberi kelayakan secara analisa investasi ekonomi. Bahkan, output berupa pupuk padat dan pupuk cair, yang asalnya sebagai lindi, kini menjadi material baru, secara nyata (signifikan) memberikan keuntungan ekonomi. Kelayakan sosial juga meningkat, memberi manfaat kepada warga sekitar serta, dengan mekanisasi penuh, bebas dari timbulan bau busuk serta cairan lindi, kelayakan lingkungan juga terpenuhi. Mekanisasi penuh, berupa penambahan mesin rotary kiln, dalam pengomposan skala suatu instalasi mampu melayani timbulan sampah dari setiap 1000 orang, diharapkan lahir sebagai jawaban atas makin sulitnya pengelolaan sampah secara tersentralisasi, seperti model pembuangan sampah ke TPA. 

Penempatan 5 unit rotary kiln, menjadi instalasi pengelolaan sampah di kota, di berbagai lokasi timbulnya sampah dari kawasan komersial (perumahan, apartemen, mall, restoran, hotel, pabrik dan kawasan industri) maupun kawasan sosial (komplek pendidikan, rumah sakit),  berarti turut menunjang bagi upaya mengembalikan bahan organik ke pertanian. Dengan merobah sampah organik disajikan dalam bentuk pupuk organik (kompos), akan diterima kalangan petani,  untuk  kemudian mereka memberikan hasil pertanian sebagai bahan pangan dan produk sehat bagi orang  kota. Instalasi pengolahan sampah, dengan mekanisasi penuh berada di sekitar sumber timbulnya sampah perkotaan, akan berfungsi dalam turut membangun model pengelolaan sampah mendukung pada terwujudnya pertanian secara berkelanjutan*)

Masalah Sampah: Metoda Bedeng Bukan Pilihan Tepat Pengolahan Sampah Kota

2 komentar:

  1. Anonim12:05 PM

    Untuk menangani masalah persampahan, pemerintah telah menentukan Kebijakan Nasional Bidang Persampahan (2006-2010), yang berisi i)Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya, ii)Mengedepankan peran dan partisipasi aktif masyarakat sebagai mitra dalam pengelolaan, iii)Perkuatan kapasitas kelembagaan pengelolaan persampahan, iv)Pemisahan badan/fungsi regulator dan operator, v)Pengembangan kemitraan dengan swasta,

    BalasHapus
  2. Anonim3:41 PM

    ya, sepakat dengan itu. Tidak ada yang istimewa dari insinerator. Meskipun namanya menggunakan istilah asing, tapi yang dilakukan sebenarnya hanya membakar sampah. Hanya itu. Rekayasa dilakukan agar suhunya cukup tinggi dan bisa mengubah sampah padat menjadi gas.

    BalasHapus

Silahkan pemikiran anda dituliskan !!