Sampah

Sampah adalah material sisa suatu aktivitas yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan menurut derajat keterpakaian dan kegunaannya. Makin majunya ilmu pengetahuan akan makin banyak material ditemukan kemanfaatannya bagi manusia, dan dengan itu akan makin sedikit material sisa yang dikatagorikan sampah. Sampah organik bisa digunakan pada pembuatan pupuk organik, berguna bagi pemberian zat hara tanaman. Sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi baru seperti minyak bakar dan energi panas.

30 Des 2010

Kerjasama dengan Badan Usaha, atasi Makin sulit dan Mahalnya TPA Sampah

Akumulasi sampah kota, berasal dari keluaran unit terkecil penghasil sampah, yang saat ini belum mampu mendayagunakan maupun  menguna  ulangnya, yakni rumah tangga. Sampah, pada level rumah tangga, masih diposisikan masyarakat Indonesia, sebagai material sisa yang harus dibuang. Pandangan bahwa sampah, bukan dianggap sumberdaya, adalah pemicu awal lahirnya masalah sampah kota. Persepsi  kita sebagai masyarakat urban, berasal dari desa kemudian hidup di kota, yang kini mendominasi populasi suatu kota Indonesia, memang tidak pernah menghadapi masalah sampah di daerah asalnya. Perilaku komunitas urban ini terbawa ke level pusat bisnis komersial dan pusat-pusat keramaian kota (seperti pasar, bahkan Mall serta pusat pertokoan lainnya). Dan, besarnya sumbangan sampah rumah tangga terhadap suatu kota ( hingga 65 %) telah berakibat langsung pada munculnya masalah sampah kota.
_______________________________________
Diketahui, kini makin sulit mendapatkan lokasi, bagi pembuangan sampah, tanpa adanya resistensi penduduk sekitarnya. Pada dasarnya, kecuali bagi kepentingan pengelolaan sampah sendiri atau masing-masing, kita tidak mau bersentuhan, bahkan, melihat sampah orang lain. Makin luas skala pengelolaan sampah, akan menimbulkan resistensi makin tinggi. Makin jauh sampah berpindah, akan makin banyak pihak memusuhinya.

Dari pemahaman akan karakter sampah diatas, prinsip pengelolaan sampah, yang paling memiliki kelayakan secara sosial, teknik dan lingkungan, adalah pengelolaan terdekat dengan sumber timbulan sampah, misalnya bentuk Instalasi Pengelolaan Sampah Kota (IPSK).  Dengan pendirian IPSK, memiliki sarana bagi olah sampah organik menjadi kompos dan tempat sampah terpisah ( organik dan anorganik). Dengan sarana itu, sampah jenis anorganik (plastik, kertas, logam, kain) akan berada dalam keadaan bersih, sehingga layak di daur ulang. Dengan IPSK, memang belum semua sampah bisa diolah, masih ada sampah (sisa bahan B3, waste un-recycle, sampah medis rdari umah sakit dan klinik) yang memerlukan penanganan khusus. Jenis sampah ini, dapat saja dibawa ke TPA, atau dibakar menggunakan Incenerator., namun jumlahnya hanya 5 hingga 10 % saja.
Alat utama dalam suatu IPSK adalah komposter, yang dalam skala  kapasitas besar hingga kapasitas 6 m3, menggunakan tipe Rotary Klin (RK). Berbagai tipe RK dapat dipilih mulai model manual (RKM 1000L), menggunakan  elektro motor RKE-1000L, atau dilengkapi penggerak (engine) seperti RKE 3000L maupun kapasitas besar RKE 2000L. Kapasitas mesin rotary, mulai 3 m3/ batch, sudah memenuhi kelayakan untuk dioperasikan secara komersial. Instalasi bisa ditempatkan di dekat Tempat Pembuangan Sampah Sementara ( TPS),  pasar induk dan pasar sayuran, fasilitas umum suatu lingkungan perumahan, sekitar dapur hotel dan restoran,  di lingkungan kantin pabrik dengan karyawan mulai 500 orang/ hari, ditempatkan sebagai fasilitas pembuatan kompos di kebun dan usaha peternakan penimbul limbah (feces, urin ternak, sisa pakan), serta sekolah dan sarana peribadatan. Instalasi bisa juga dipindah sesuai keperluan (mobile). IPSK dengan alat mesin Rotary Klin ini akan memberi pendapatan bagi siapapun yang ingin memanfaatkan dan mengelola sampah. Di perkotaan, dengan makin banyak tempat usaha mengalami masalah dengan sampahnya, IPSK memberi dukungan bagi hadirnya peluang usaha. Usahawan (UKM, koperasi/ yayasan) bisa menjadi rekanan jasa kebersihan maupun mengelola produksi kompos dan pupuk cair. IPSK bisa menjadi alternatif atas kondisi Intitusi pelayanan publik, pemerintah kota, yang seringkali sulit diandalkan kapasitasnya dalam pengangkutan sampah.  

Beberapa contoh penggunaan skala instalasi dengan menggunakan Rotary Kiln ini antara lain Mc Dermott Indonesia Batam, Medco Energy Kaji Sumatera Selatan, Gudang Garam di Dangdangan Kediri, Panasonic PMI Bogor, Panasonic KIIC, PT Antam Halmahera Maluku, PT. Bridgestone, PT Pupuk Kaltim Tbk, Yayasan Itikurih Kab Bandung, Dinas Lingkungan Hidup Majalengka, Dinas Lingkungan Hidup Bekasi, Bapedalda Donggala Sulawesi Tengah, Dinas Kebersihan Prov Maluku, Cipta Karya Karawang dan LIPI Subang, Rutan dan LP di Jakarta Bandung dan Surabaya, BLH Manokwari, Kukje Sangyo Papua dan pengusahaan secara komersial di Kutai Barat, Perusahaan perkebunan di Balikpapan, Perusahaan PMA Korea di Papua, dll
Model IPSK dengan teknologi tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan investasi model TPA. Menurut Kasubdit Dirjen Tata Kota dan Pedesaan (Investor Daily, 24-8-2004) :" Untuk membangun Tempat Pembangunan Akhir (TPA) sampah dikota berpenduduk 250 ribu jiwa, diperlukan dana Rp 23 miliar per tahunnya". Menurut Kasubdit wilayah Barat II Dirjen Tata Perkotaan dan Pedesaan Depkimpraswil Bambang Purwanto, dana tersebut untuk pengadaan lahan, pengadaan alat berat, Konstruksi TPA, dan operasi, juga dibutuhkan untuk pemberian gaji karyawan. Dana tersebut seharusnya tidak hanya dari APBD Kota/ Kabupaten. Namun, perlu juga dari APBD provinsi dan APBN.

Disamping kelayakan ekonomi, mengalihkan investasi pembukaan TPA kepada pendirian IPSK akan memberikan peluang lapangan kerja dan usaha baru kepada UKMM ( Usaha Kecil dan Mikro), perorangan dan koperasi di lokasi-lokasi dekat pemukiman, komplek perumahan, pabrik, foodcourt mall, restoran dan hotel, serta berbagai penimbul sampah lainnya. Peluang penumbuhan ekonomi dan pembukaan lapangan kerja bagi suatu wilayah, pada contoh suatu kota kecil dengan 250.000 penduduk sebagaimana diatas,  akan menghasilkan sekitar 200 ton/hari. Dengan 200 ton timbulan sampah/ hari, dapat dikelola di sumber timbulnya oleh 200 lokasi IPSK dengan kapasitas olah 1 ton/batch. Jika setiap entitas IPSK, dengan besaran investasi, misalnya mulai Rp 100 juta/ IPSK, total investasi Rp 20 milyar atau setara  bagi pembukaan TPA berikut sarana angkutan, dan kontainer sebagaimana analisa Ditjen Tata Kota Perkotaan dan Pedesaan diatas. 
Makin sulitnya mendapatkan lokasi TPA dekat dengan sumber sampah suatu kota, serta akan makin mahalnya mobilisasi sampah, seiring dengan kenaikan BBM dan pemeliharaan sarana angkutan, pilihan kebijakan pengelolaan sampah di dekat sumbernya dalam IPSK patut dipertimbangkan para pembuat kebijakan layanan publik atau kepala daerah. Keterbatasan anggaran pembangunan juga bisa diatasi dengan pendirian IPSK secara bertahap, gradual, disesuaikan dengan kemampuan dan tingkat penerimaan masyarakat masing-masing. Dan, IPSK juga bisa diserahkan sebagai entitas usaha, menumbuhkan peluang kepada warga masyarakat mengelolanya secara mandiri. Karena, kerjasama pengelolaan sampah dengan badan usaha dan kelompok masyarakat, sesungguhnya sudah ada mekanisme baku. Contoh DKI Jakarta, sudah lama menyerahkannya kepada swasta, melalui pengaturan  tipping fee atas setiap besaran volume sampah, yang diserahterimakan pengelolaannya kepada pihak ketiga*).  

2 komentar:

  1. Anonim2:55 PM

    Pemerintah Provinsi (Pem­prov) DKI Jakarta dinilai tidak perlu lagi mengurusi pengelo­la­an sampah, melainkan cukup men­­jadi regulator. Pasalnya, ji­ka pengelolaannya diserahkan ke pi­hak swasta, penanganan lim­bah rumah tangga itu akan men­jadi le­bih baik. Saran itu di­sam­pai­kan Ketua Umum Aso­siasi Per­sam­pahan Indonesia Sri Bebassari.

    “Jika pengelolaan sampah di­limpahkan ke pihak swasta, itu merupkan hal yang positif. Bila tercapai, itu ide yang bagus. Pe­me­rintah menjadi regulator, se­mentara pihak swasta jadi pe­lak­sananya,” ungkap Sri Bebassari.

    BalasHapus
  2. Anonim12:08 PM

    Direktur Jenderal Cipta Karya, Agoes Widjanarko menyatakan bahwa pola penanganan sampah dengan pola Sanitary Landfill di TPA tidak mudah karena memerlukan lokasi yang cukup luas dan tidak bisa di sembarang tempat dan penanganannya harus secara serius dan berkelanjutan, bila tidak akan terjadi masalah lain seperti di Leuwigajah (Bandung).

    BalasHapus

Silahkan pemikiran anda dituliskan !!