Sampah

Sampah adalah material sisa suatu aktivitas yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan menurut derajat keterpakaian dan kegunaannya. Makin majunya ilmu pengetahuan akan makin banyak material ditemukan kemanfaatannya bagi manusia, dan dengan itu akan makin sedikit material sisa yang dikatagorikan sampah. Sampah organik bisa digunakan pada pembuatan pupuk organik, berguna bagi pemberian zat hara tanaman. Sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi baru seperti minyak bakar dan energi panas.

29 Nov 2010

Kelola Sampah Berbasis Komunitas


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengancam mencabut penghargaan Adipura dari daerah yang tak bisa menjaga kebersihannya.  Lebih lanjut dikatakan, “jangan sampai, katanya, daerah cuma bebersih menjelang tim penilai datang, namun setelahnya kembali kacau balau. (TEMPO Interaktif, Purwakarta, 28 Nov 2010).  Pernyataan keras dari pimpinan tertinggi negara ini dipahami sebagai kegusaran atas masih dan makin banyaknya kota megalami masalah dalam upaya menjaga kebersihan secara berkelanjutan. Setelah event penilaian Adipura, umumnya kembali seperti sediakala, kotor dengan berserakannya sampah di berbagai sudut kota.

Melihat keadaan pengelolaan sampah di banyak kota maupun hasil menyimak jalan berfikir banyak pimpinan pengelola kota, nampaknya problem sampah dan kebersihan ini belum akan berakhir untuk beberapa tahun kedepan. Kultur dan cara pandang pimpinan kota serta masyarakat akan sampah bisa dikatagorikan masih primitif. Pada komunitas primitif, karena keterbatasan ilmu pengetahuan melihat kegunaan dan keterpakaian suatu material, benda dikatagorikan sampah. Padahal, kini, banyak hasil penelitian dan perkembangan ilmu pengetahuan telah menuntun kita akan pentingnya material - yang selama ini dikatagorikan sampah. Bagi masyarakat dan kita yang telah tahu sesuatu itu memberi manfaat keterpakaian, namun masih juga membuangnya, harus diakui kita tergolong primitif. Bahkan, dalam nilai agama - yang dianut sebagian besar warga, kepada manusia demikian digolongkan melakukan perbuatan mubadzir (sia-sia). Terlebih lagi dari berbuat sia-sia (mubadzir), ketika melakukan pembuangan sampah ke TPA, malahan justru, menggunakan biaya mengangkut, bongkar muat, dan menyediakan investasi sarana prasarana. Pengelolaan kebersihan suatu kota, nampaknya memerlukan ikhtiar lebih dari sekedar pengadaan sarana prasarana. Kampanye dan advokasi perlu mendapat porsi perhatian pemerintahan juga. 

Keberhasilan kampanye dan advokasi di masa lalu dalam masalah sampah pribadi perlu dicontoh. Beberapa dasawarsa lalu, hampir sebagian masyarakat  kita juga masih primitif dalam membuang sampah katagori hajat ( tinja, urine). Bisa dilakukan dimana pun, sungai, selokan, atau sekedar septik tank buatan sederhana, di tanah kebun belakang rumah. Perkembangan kini, sekurangnya hampir sedikit yang tetap melakukannya, sebagian besar warga sudah merobah perilaku dengan, misalnya, membuat septik tank, membuat toilet bagus dan bersih, bahkan mewah, serta menggunakan jasa kebersihan penyedotan tinja. Sayangnya, sampah sisa makanan dan kegiatan sehari-hari, yang sebenarnya sama dengan hajat, belum sebaik diperlakukan sebagaimana hajat. Padahal resiko yang ditimbulkan dari hajat ( feces) dan sampah sama buruknya, mencemari lingkungan dengan bau, sumber penyakit dan mengganggu estetika. 

Dengan memahami problematika sampah seperti diatas, membawa kita kepada keharusan untuk mulai menumbuhkan nilai, cara pandang dan paradigma baru di masyarakat (komunitas). Pendidikan, ajakan dan advokasi harus dilakukan secara luas bahwa, cara seseorang memperlakukan sampah harus disamakan dengan ketika memperlakukan hajatnya. Ditumbuhkan budaya malu, atau ditumbuhkan nilai-nilai positif adanya nilai kegunaan dari material yang belum didayagunakan tersebut. Keberhasilan beberapa negara dalam menanamkan nilai dan paradigma kepada masyarakat (komunitas) dalam memperlakukan sampah ( sisa makanan, tinja atau feces, urine), bahkan menjadi pupuk organik, patut ditiru. Berikan ruang yang cukup agar komunitas berpartisipasi dalam mengelola dan memperlakukannya, lepaskan dan serahkan sebagian kewenangan negara dalam pengelolaan sampah seperti aspek pengelolaan retribusi, perijinan maupun pemanfaatan anggaran pembangunan. Dukungan masyarakat (komunitas) inilah yang sesungguhnya lebih akan menopang sukses suatu kota mengelola kebersihannya secara berkelanjutan (sustainable).



  

5 komentar:

  1. Anonim1:37 PM

    sampah dari tinja itu bisa dibuat pupuk pak ?

    BalasHapus
  2. Anonim5:29 AM

    pupuk organik berbahan tinja sangat bagus, kandungan nutrisi atau hara lebih tinggi dibanding pupuk organik yang berbahan daun maupun kotoran ternak. Hewan ternak hanya makan daun ( herbivora), makanan manusia kan lebih kaya gizi, jadi outputnya akan lebih bagus bagi tanaman......cuma, vektor yang terkandung di tinja harus diurai dulu dengan bakteri pengurai ( probiotik)

    BalasHapus
  3. sampah telah menajdi masalah kronis di kota-kota Indonesia, banjir pun karena sampah menyumbat drainase.

    BalasHapus
  4. Anonim10:27 AM

    apakah model pengolahan di sumber penghasil sampah itu kendalanya banyak pak ? konsepnya bagus, tapi kok kurang terdengar digunakan?

    BalasHapus
  5. Anonim4:13 PM

    I always spent my half an hour to read this blog's content everyday along
    with a mug of coffee.

    Take a look at my web-site: camping 64 - -

    BalasHapus

Silahkan pemikiran anda dituliskan !!