Sampah

Sampah adalah material sisa suatu aktivitas yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan menurut derajat keterpakaian dan kegunaannya. Makin majunya ilmu pengetahuan akan makin banyak material ditemukan kemanfaatannya bagi manusia, dan dengan itu akan makin sedikit material sisa yang dikatagorikan sampah. Sampah organik bisa digunakan pada pembuatan pupuk organik, berguna bagi pemberian zat hara tanaman. Sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi baru seperti minyak bakar dan energi panas.

22 Jan 2006

Reduksi Sampah, Sehatkan Rumah Kurangi Beban TPA !!!


Komposter (Tipe L) berdimensi (Tinggi=90 cm, Diameter= 55 cm) terbuat dari bahan plastik HDPE, merupakan solusi tepat penanganan sampah dengan tujuan MEREDUKSI (khususnya sampah rumah tangga dan Pemukiman pada umumnya seperti : makanan, kertas, limbah masakan, sayuran, sisa ikan dan daging, dll)

Komposter ( L) ini akan memiliki kemampuan mengelola sampah kurang lebih untuk 12 hari buangan sampah keluarga atau rumah tangga. Bagi rumah tangga Indonesia, diketahui bahwa, setiap jiwa mengeluarkan sampah sekira 2,6 liter per hari atau 15 liter per keluarga rumah tangga Indonesia dengan 5 jiwa/keluarga.
 
Dalam melaksanakan penanganan sampah yang bertujuan mereduksi dengan menggunakan Biophoskko  (Type L ) dapat diikuti tatacara berikut :

Pertama, sampah organik rumah tangga ( sisa makanan, potongan sayuran, kulit buah, sisa ikan dan daging, PLASTIK UKURAN KECIL, DAN SAMPAH UKURAN KECIL LAINNYA ) yang umumnya sampah rumah tangga itu berukuran kecil (10-50 mm atau 5 cm). Kapasitas Bio Reaktor Mini Berseka® (Type L2) dengan dimensi tinggi dengan diameter ( 90 cm dan 55 cm) ini berkapasitas +/- 0,5 m3 (kubik) atau setara dengan 100 kg sampah ( konversi atau kepadatan/cm3 berat sampah terhadap volume adalah 20 %).

Kedua, masukan kedalam BRM sejumlah sampah ( idealnya ukuran kecil tersebut ) secara bertahap, setiap ketinggian 10 cm setiap tahapannya. Kemudian campurkan penggembur ( balking agent ) Green Phoskko® sebanyak 1-3 % bahan atau setara dengan 3 -9 kg untuk 100-300 kg sampah ( seukuran penuh BRM Type L2 ini) secara bertahap lapis demi lapis hingga dianggap cukup merata. Banyaknya penggunaan penggembur ini ditentukan oleh keadaan sampah, yakni jika terlampau basah digunakan rasio 3 % dan jika agak kering dapat digunakan 1 % dari jumlah sampah. Namun demikian, semakin banyak digunakan rasionya terhadap jumlah sampah maka akan makin baik proses dekomposisi dan mempercepat hasilnya.

Ketiga, saat terjadinya proses penyerapan penggembur ( balking agent ) kedalam bahan sampah, dilain tempat (sprayer, baskom atau ember) disiapkan larutan mikroba Green Phoskko® Activator. Caranya, ambil 5 sendok makan mikroba aktivator dan larutkan dalam air sebanyak 10 – 15 liter. Aduk hingga merata dengan beberapa kali mengaduknya serta kemudian bisa langsung disiramkan kepada tumpukan bahan atau sampah tadi –secara perlahan, sedikit demi sedikit atau terlebih dahulu simpan 2-4 jam akan lebih baik lagi. Bagi penyimpanan untuk kepentingan hari lainnya dapat dimasukan kedalam sprayer. Beberapa hari kemudian akan terjadi reaksi panas sampai 70 derajat Celcius, jika ada bisa diukur dengan menggunakan thermometer. Pada saat terjadinya reaksi panas usahakan jangan membuka Bio Reaktor (BRM) agar terjadi dekomposisi sempurna.
 
Keempat, pada hari ke 5- 6, reaksi dekomposisi dalam bio reaktor mini akan selesai dan saat tersebut dapat ditambahkan lagi tambahan sampah yang ada telah disiapkan sebagaimana langkah 1 sampai 3 diatas. Atau, jika dianggap perlu, pada hari ke 7 sampai 9, jika diukur suhunya sudah dibawah 30 derajat C atau dianggap sudah dingin, tambahkan lagi sampah yang sekaligus diberikan penggembur dan aktivator secukupnya. Pada hari ke 7 Sampah dalam BRM tersebut masih basah, lengket dan lembab. Volume sampah dalam BRM akan menyusut hingga 70 % dan bisa ditambahkan lagi sampah berikutnya sampai BRM penuh yang diperkirakan pada bulan ke-2. Namun jika saja ingin membuang dan memperoleh amilioran ( tanah gembur ) untuk tanaman maka keluarkan sampah setelah dekomposisi tersebut dan disimpan di tempat teduh agar kena angin serta tutup dengan karung kemasan untuk diangin-anginkan.
 
Dalam beberapa hari kemudian (umumnya 3-5 hari) hasil olahan sampah -yang asalnya basah dan bau busuk akan menjadi kering, tidak berbau dan juga gembur. Jika untuk mau gunakan sebagai amilioran – seperti kompos atau penggembur tanah- ayak dengan menggunakan ayakan lolos mes 80 mm dan sekop. Dengan pengayakan, hasil dekomposisi sampah tersebut akan terpisahkan antara butir kecil dengan bahan butir ukuran besar. Pisahkan bagian plastik dan sampah ukuran besar untuk dibuang ke Tong Sampah sebagaimana biasanya atau berikan kepada pemulung. Jumlah sampah ini hanya akan sekitar 10-20 % saja dari jumlah sampah semula.

Gundukan hasil olahan sampah ukuran butir kecil masukan kedalam kemasan sesuai yang direncanakan. Maka kini anda memiliki kompos amilioran buatan anda sendiri untuk siap dijual maupun langsung digunakan bagi tanaman pekarangan anda.
Bagi peminat, Di Cibiru dan beberapa wilayah Kota Bandung kini telah berdiri instalasi pengolahan sampah yang terdiri dari 4 sampai dengan 14 unit BRM sebagai bantuan Lingkungan kepada Usaha Mikro dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero). Di Cibiru sebagai misal, dengan hanya 4 unit BRM Type L2 dan 3 unit di RT lainnya, mampu mengolah sampah dari 2 RT atau sekitar 80 - 100 rumah. Maka, ada kegiatan pemuda- yang dipimpin oleh sdr. Imam setiap hari mengambil sampah yang disetorkan warga. Warga membayar juga secara sukarela Rp 500- Rp 1000,- per minggu atau per bulan. " Tergantung kemampuan masing2............besarnya ngak ditetapkan" ujar Imam. Namun yang menarik, di wilayah Gg. Budi No. 1 Rt. 01/04 Kel. Cipadung Kec. Cibiru Kota ini sekarang sudah tidak ada lagi TPS yang sebelumnya banyak diprotes warga karena menyebarkan bau busuk . Jadi kepedulian PT PGN ( Persero) telah ikut mengurangi beban masalah sampah Kota Bandung.