Sampah

Sampah adalah material sisa suatu aktivitas yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan menurut derajat keterpakaian dan kegunaannya. Makin majunya ilmu pengetahuan akan makin banyak material ditemukan kemanfaatannya bagi manusia, dan dengan itu akan makin sedikit material sisa yang dikatagorikan sampah. Sampah organik bisa digunakan pada pembuatan pupuk organik, berguna bagi pemberian zat hara tanaman. Sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi baru.

4 Apr 2005

Program Pengelolaan Sampah Kota Berbasis Komunitas

Progress Report :
Program Pengelolaan Sampah Kota Berbasis Komunitas

Dengan :
Pemanfaatan Teknologi Komposter Bio Phoskko dan Bio Reaktor Mini (BRM)

Melalui :

Model Instalasi Pengolahan Sampah Kota (IPSK)
Pada 50 Titik/ Lokasi Percontohan di Kota Bandung dan Kota Cimahi

Provinsi Jawa Barat

Mengenalkan dan Mengajarkan Reduksi dan Daur Ulang Sampah ( Reduce & Recycle) Di Masyarakat

Diajukan Oleh:

Posko Hijau

Jl. Pungkur No.115c Bandung 40251, Telp. 022-4262253-4262235, Fax. 022-4214084 BANDUNG

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Akibat longsornya timbunan sampah di TPA Leuwigajah 21 Februari 2005 lalu- yang telah merenggut banyak korban, menyebabkan timbulnya permasalahan lain bagi masyarakat Kota/ Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Setidaknya aliran sebagian besar sampah di tiga kota tersebut tersendat, dan makin banyak penumpukkan di beberapa sumber sampah atau TPS, yang membuat aroma tidak sedap bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan, sampah kota yang diproduksi setiap hari, baik dari sumber rumah tangga (60%), pasar (20%), rumah makan, restoran dan area lainnya (10 %) menimbulkan polusi udara atau pencemaran air yang dapat mengganggu kehidupan warga kota sendiri.

Berdasarkan data UPTD Kebersihan Kota Cimahi dan Kantor Pengaturan TPA PD Kebersihan Kota Bandung, sampah yang dibuang ke TPA Leuwigajah dari Kota Bandung setiap harinya 2.700 m3, dari Kabupaten Bandung 700 m3, dan dari Kota Cimahi 400 m3. Jika total sampah dihitung dalam setahun, maka mencapai angka 1.387.000 m3.
Khususnya di Kota Bandung, armada (truk) pengangkutan sampah yang masih bisa dioperasionalkan PD Kebersihan hanya 77 truk. Dengan keterbatasan ini menyebabkan dari total produksi sampah 7.500 m3/hari
masih menyisakan sekitar 35%nya (+ 2.500 m3/hari) yang tidak dapat diangkut baik ke TPA Leuwigajah atau TPA Jelekong. Sudah dapat dipastikan, sisa sampah yang tidak terangkut menumpuk lebih lama di TPS atau di lokasi-lokasi tertentu diluar itu. Upaya pemerintah untuk mencari TPA pengganti sampai saat ini masih mengalami kesulitan.

Sampah kota, sebenarnya tidak selalu menjadi sumber masalah apabila dikelola dengan baik. Jumlah sampah kota yang semakin besar seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, bahkan dapat menjadi sumber ekonomi dan pendapatan bagi masyarakat kota. Sampah organik, misalnya, potensi ekonomis pengolahan sampah ini, yaitu dapat dikelola dengan mudah menjadi kompos dengan pemanfaatan teknologi sederhana komposter pada rumah tangga, RT, RW maupun skala komunal setingkat lingkungan RW atau pelayanan bagi 500-1000 rumah tangga.

Demikian pula penggunaan teknologi Bio Reaktor Mini (BRM)- yang berkemampuan mereduksi sampah ( organik dan organik) hingga 20 % pada hari ke 5-7 hari menjadi hasil dekomposisi yang kering, gembur dan tidak berbau.

Model pengelolaan sampah skala ekonomis tersebut yaitu pendirian suatu Instalasi Pengolahan Sampah Kota (IPSK) yang menggunakan 14 unit Bio Reaktor Mini (BRM) - untuk tujuan REDUKSI SAMPAH atau 5 unit Komposter type Rotary Klin @ kapasitas + 5 m3/ unit/5 hari). Setelah 5-7 hari, hasil dekomposisi siap diolah lebih lanjut ataupun dibuang ke TPA ( hanya 20 %- 40 % dari volume sampah semula).
Jika diinginkan output akhir berupa barang ekonomis, maka dengan menerapkan model ini diperkirakan minimal sebanyak 25 % akan menjadi kompos dan an-organik ( tak tergradasi berupa logam, plastik, karton) sebanyak 15 % dari hasil dekomposisi sampah. Hasil panen berupa kompos - yang terlebih dahulu diberi kemasan bisa dijual dengan harga yang lebih bagus kepada pihak-pihak yang tepat, baik langsung kepada para petani, perusahaan swasta/ BUMN dan atau instansi pemerintah baik pertanian, perkebunan atau kehutanan. Jika harga jual kompos kemasan perkilonya antara Rp. 200–Rp. 1.000 saja, maka pendapatan masyarakat di lingkungan RW perbulannya dapat mencapai antara Rp. 600.000 – Rp. 6.000.000.

Akan tetapi, penanganan dan pengelolaan sampah kota dengan berbagai pendekatan, akan menghadapi kendala apabila tidak dibarengi dengan adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat. Oleh karena itu, pula perlu dilakukan upaya-upaya penyadaran mulai dari rumah tangga, lingkungan RT dan masyarakat di lingkungan RW. Yaitu melalui kampanye-kampanye secara masif, penyebaran informasi tentang jenis-jenis, manfaat dan dampak sampah bagi kesehatan diri dan lingkungan.
Upaya pendidikan dan pelatihan pun perlu dilakukan, yaitu untuk mencetak kader-kader relawan/ tenaga pendamping yang memiliki pengetahuan dan keahlian secara teknis tentang tatacara pengolahan sampah organik dengan pemanfaatan teknologi pada lingkungan setingkat RW. Kader ini juga diharapkan memiliki kemampuan mengelola sampah organik skala ekonomis melalui pengemasan dan pemasaran kompos dari setiap IPSK.

Mencermati adanya permasalahan sampah di atas, sejumlah organisasi yang memiliki keprihatinan dan kepedulian, pada tanggal 30 April 2005 memprakarsai adanya konsorsium dalam bentuk organisasi nirlaba membentuk Gerakan Darurat Penanganan Sampah Kota atau disingkat GDPSK. Gerakan ini merupakan inisiatif masyarakat dan berupaya memberi solusi serta membangun partisipasi juga meningkatkan kesadaran masyarakat, pada program “Pengelolaan Sampah Kota Skala Ekonomis Berbasis Masyarakat” dengan “Pemanfaatan Teknologi Komposter dan Bio Reaktor” melalui “Model Instalasi Pengolahan Sampah Kota (IPSK) Pada 50 Titik/ Lokasi Percontohan di Kota dan Kabupaten Bandung serta Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat”.

1.2. Judul Program

Sebagaimana upaya yang ingin dilakukan GDPSK, maka program inipun diberi judul “Pengelolaan Sampah Kota Skala Ekonomis Berbasis Komunitas” melalui “Pemanfaatan Teknologi Sederhana Komposter dan Bio Reaktor ” dengan “Model Instalasi Pengolahan Sampah Kota (IPSK) Pada 50 Titik/ Lokasi Percontohan di Kota Bandung dan Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat”.

1.3. Maksud dan Tujuan

Maksud dilaksanakan program pengelolaan sampah kota skala ekonomis berbasis masyarakat adalah untuk memberi alternatif dalam penanganan masalah sampah di perkotaan khususnya di Kota Bandung dan Kota Cimahi yang telah mencapai titik kritis dengan tidak dimilikinya TPA akibat terjadinya bencana di TPA Leuwigajah. Sehingga dengan program ini diharapkan dapat menurunkan dan mencegah kerusakan lingkungan lebih parah lagi, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya penanganan sampah kota bagi penciptaan sumber-sumber pendapatan ekonomi masyarakat, dan pada gilirannya program ini dapat menjawab permasalahan sebagai berikut :

a. Terjadinya penumpukan sampah dari sumber-sumber sampah di lingkungan masyarakat setingkat RW di Kota Bandung dan Cimahi.
b. Terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup (pencemaran udara dan air)
c. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengolahan sampah kota di tingkat lingkungan RW, dan manfaatnya bagi peningkatan ekonomi.


Adapun tujuan yang ingin dicapai dengan program ini, adalah :

a. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang permasalahan sampah di perkotaan melalui kampanye secara massif, dan menumbuhkan kesadaran pentingnya penanganan terhadap sampah kota dengan pemanfaatan teknologi sederhana Komposter dan Bio Reaktor Mini.

b. Menciptakan sumber ekonomi dan pendapatan bagi masyarakat kota melalui pengelolaan sampah dari sumber retribusi masyarakat, penjualan kompos ( amilioran) dan penjualan barang bahan daur ulang ( plastik, logam) pada skala ekonomis di lingkungan masyarakat (lingkungan setingkat RW) dengan pendirian Instalasi Pengolahan Sampah Kota (IPSK) yang terdiri dari 14-21 unit Bio Reaktor type L atau 5 unit Rotary Klin/ IPSK di 50 titik/ lokasi percontohan.


Pelatihan Mengelola Sampah Kota di Kec Margacinta
c. Membangun jaringan masyarakat yang memiliki kepedulian dan keahlian dalam pemanfaatan teknologi sederhana pengolahan sampah kota melalui pendidikan dan pelatihan yang mencetak kader relawan, untuk dijadikan tenaga pendamping bagi masyarakat di setiap titik/ lokasi IPSK.


1.4. Manfaat Program

Hasil dari pelaksanaan program pengelolaan sampah kota skala ekonomis berbasis masyarakat di Kota Bandung dan Kota Cimahi, diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :

a. Bagi Pemerintah dapat dijadikan masukan/acuan dalam pengambilan kebijakan sektor lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat.
b. Bagi masyarakat pengambil manfaat, dapat dijadikan sebagai kegiatan produktif untuk menyelamatkan kualitas lingkungan dan meningkatkan pendapatan ekonomi.
c. Mendorong masyarakat kota untuk lebih memiliki kesadaran akan bahayanya membuang sampah, dan mendorong adanya paradigma baru ‘mengelola’ sampah.
d. Kebersihan lingkungan dan ekonomi masyarakat kota menjadi lebih baik.

Presentasi Ke-3 Pada Walikota Bandung di Bappeda
II. RUANG LINGKUP PROGRAM

Ruang lingkup program pengelolaan sampah kota skala ekonomis berbasis masyarakat di Kota Bandung dan Kota Cimahi, adalah :

1. Kampanye, adalah upaya penyebaran informasi seputar masalah persampahan, serta sosialisasi tentang tatacara pemanfaatan dan pengelolaan sampah kota kepada masyarakat.

Kampanye akan dan sudah dilakukan melalui sosialisasi dan tatap muka langsung maupun melalui radio dan TV serta penyebaran stiker, brosur, poster kepada masyarakat dan pemasangan spanduk-spanduk di lokasi strategis.

2. Pendirian ‘Percontohan’ Model IPSK dan Pendampingan, adalah upaya mengimplementasikan proses pengolahan sampah organik skala ekonomis di lingkungan masyarakat setingkat RW dengan pendirian model Instalasi Pengolahan Sampah Kota (IPSK) serta pendampingannya selama 1 (satu) bulan efektif.

Penyuluhan Pada Kelp Masyarakat Ibu Rumah Tangga Penghasil Sampah

Model Instalasi/IPSK yang berada di lingkungan RW tersebut, akan didirikan pada 50 titik/ likasi yang tersebar di Kota Bandung, kabupaten Bandung dan Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat, yang sampai saat ini bulan Januari 2006 baru terbangun di 20 lokasi.

3. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), adalah upaya mendidik dan melatih kader relawan yang diperlukan untuk menjelaskan dan mendampingi masyarakat masalah pemanfaatan teknologi tepat guna pengolahan sampah kota skala ekonomis di lokasi IPSK.

Diklat akan dilakukan sebanyak 10 kali (@ 25 orang), untuk menghasilkan 250 kader relawan/ tenaga pendamping yang akan ditempatkan pada 50 titik Instalasi/IPSK (@ 5 orang).

4. Pengemasan dan Pemasaran Kompos, adalah upaya menciptakan nilai tambah dan pasar pupuk organik yang dipanen pada setiap IPSK. Melalui proses selama dua minggu, satu IPSK (14 unit Komposter type L atau 5 Unit Rotary Klin ) diperkirakan akan menghasilkan kompos antara 1.500-3.000 kg, atau 3.000-6.000 kg kompos per bulan (tergantung bahan baku sampah).

Kompos atau amilioran - yang memenuhi standar jumlah, mutu dan lokasi akan dilakukan penjemputan, akan dipasarkan kepada anggota outlet dan instansi pemerintah atau difasilitasi kepada pangsa pasar lainnya yang membutuhkan kompos dan amilioran dalam jumlah besar seperti perusahaan perkebunan swasta/pemerintah, instansi pemerintah sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan, perusahaan pertambangan bagi kepentingan reklamasi lahan atau langsung kepada petani.


III. TAHAPAN KEGIATAN

1. Pemilihan Lokasi

Pada dasarnya lokasi yang memiliki potensi permasalahan sampah perkotaan khususnya di Kota Bandung dan Kota Cimahi hampir terjadi merata. Akan tetapi, dibeberapa titik sumber sampah di lingkungan RW terdapat wilayah memiliki potensi permasalahan sampah lebih besar. Diantaranya yaitu lokasi yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tertentu atau terdapat wilayah yang memiliki komplek-komplek perumahan, pasar dan rumah makan/restoran.

2. Survey Lokasi

Survey lokasi akan dilakukan setelah dirumuskan dalam sebuah kajian/ FGD (Focus Group Discussion) antara tim dan pemerintah di tingkat kelurahan. Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan lokasi yang akan dijadikan prioritas dalam program.

Para Camat dan Pejabat Kota Cimahi
3. Pelaksanaan Program

a. Kampanye Secara Massif

Kegiatan kampanye akan dimulai dengan penyusunan materi-materi/ isi yang sesuai dengan maksud program. Akan dilakukan beriringan dengan kegiatan pemilihan dan survey lokasi atau berbarengan dengan kegiatan lain dalam penyebaran, pemasangan dan pendistribusiannya.



b. Diklat
Para Peserta Diklat Pengelolaan Sampah Ciwastra-Margacinta
Pendidikan dan pelatihan ditujukan kepada para pemuda/ masyarakat di sekitar lokasi yang dipilih sebagai percontohan. Kegaiatan ini akan dilakukan sebelum pendirin instalasi/IPSK.


c. Pendirinan Instalasi/ IPSK dan Pendampingan

Pendirian instalasi percontohan akan dilakukan setelah masyarakat/ kelompok sasaran (Target Group) ditentukan dan kader-kader relawan dilatih. Kegiatan ini juga akan dilakukan setelah masyarakat di sekitar lokasi IPSK diberikan IPSK di 20 Lokasi IPSK, Contoh Lok Cibiru
Kota penyuluhan-penyuluhan oleh para kader relawan/ tenaga pendamping.

Pengayakan Memisahkan Kompos dan Plastik, Logam lain
d. Pengemasan dan Pemasaran Kompos- Amilioran

Kegiatan pengemasan bersifat fakultatif, akan dilakukan atas permintaan/ kesepakatan antara masyarakat dengan pihak ketiga lain. Demikian pula dengan pemasaran kompos, paling tidak kegiatan ini akan dilakukan setelah adanya produksi kompos-amilioran dan kerjasama pemasaran dengan pihak penjamin pasar.

4. Evaluasi

Kegiatan evaluasi akan dilakukan secara intensif dan berkala. Kegiatan ini akan mengikutsertakan semua pihak yang terkait dengan program.

Kompos-Amilioran Hasil Masyarakat dipasarkan PTCV. Sinar Kencana
5. Pelaporan

Pelaporan akan dibuat setidaknya dalam tiga bentuk/tahapan, yaitu laporan pendahuluan, laporan perkembangan dan laporan akhir.

IV. Pelaksanaan

Program ini telah dan akan terus dilaksanakan selama 18 bulan (efektif), sejak bulan April 2005 lalu s.d. Oktober 2006 (tentatif) sesuai dengan bentuk dan tahapan kegiatan.

V. Organisasi Pelaksana

Proram ini diprakarsai oleh sejumlah organisasi masyarakat di Jawa Barat yang membentuk GDPSK, sebagai Penanggungjawab Umum. Sedangkan untuk pelaksanaan program dijalankan oleh Tim Pelaksana sebagai Penanggungjawab Harian. Adapun anggota konsorsium terdiri dari Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia (APPKMI) Jawa Barat, Asosiasi Konsultan Non-Konstruksi Indonesia (ASKINDO) Jawa Barat, Asosiasi Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (AKU) Jawa Barat, Forum Rukun Warga (RW) Kota Bandung dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Bandung.

VII. Mitra Kerjasama Pembiayaan

Program ini akan dilaksanakan dengan mitra kerjasama pembiayaan, dari :
a. Lembaga Swadaya Masyarakat/ NGO, dalam atau luar negeri serta bantuan BUMN.
b. Instansi Pemerintah Provinsi atau Pusat.
140 Unit Bio Reaktor Bantuan PT PGN (Persero)

IX. Penutup dan Progress Report

Demikian proposal program ini dibuat semoga dapat terselenggara dengan mendapat dukungan dari yang memiliki keprihatinan dan kepedulian terhadap permasalahan sampah kota. Sekilas progress report sampai Januari 2006 sebagai berikut :
1. Telah diselenggarakan baik atas inisiatif GDPSK maupun atas undangan penyelenggara, 200 pertemuan penyuluhan dan demo pengelolaan dan Reduksi sampah,
2. Penyerahan bantuan 2 ton Aktivator mikroba Green Phoskko dan 5 ton bulking agent Green Phoskko dari sponsor PT. Sinar Kencana bagi pereduksian sampah 10.000 m3,
3. Telah berdiri 20 Instalasi Percontohan atas bantuan BUMN PT Perusahaan Gas Negara (Persero),
4. Telah dilakukan pelatihan bagi kelompok pemuda, relawan dan pelaksana pengelolaan sampah,
5. Telah dilakukan penyebaran 1000 poster, 15.000 leaflet- brosur dan komunikasi melalui media cetak maupun elektronik lainnya.

Bantuan PT CV Sinar Kencana berupa aktivator, kemasan kompos dan Pelatihan


Bandung, 29 Januari 2006


Inisiator, Ir. Sonson Garsoni
Forum RW Kota Bandung, Drs Tatto Sutamto, Msi
Asosasi Konsultan Non Konstruksi, Dr Ir Ade Bagja
Asosiasi Pupuk Kecil Menengah, Dr Ir Tualar Simarmata
HKTI KOta Bandung, M Hardi Maksud



5 komentar:

  1. Mekanisasi, penggantian bedeng dengan rotary kiln pada pengolahan sampah di kota, adalah keniscayaan bagi kepentingan mewujudkan pengelolaan sampah yang berbasis kepada kekuatan masyarakat (komunitas) untuk mandiri. Masa depan pengelolaan sampah, bukan lagi suatu biaya jasa dan pembelian alat mesin yang harus kita bayar kepada korporasi asing (impor), yang akhirnya kemudian jadi beban masyarakat. Sampah, bagi masa depan kita, adalah sumber daya baru bagi upaya menumbuhkan ekonomi lokal, setelah sumberdaya ekonomi lainnya, karena kekuatan liberalisasi, ketidakarifan dan kepentingan pemerintahan berwenang maupun kelalaian kita semua, kini banyak dikuasai korporasi asing.

    BalasHapus
  2. Teknik menggunakan tabung yang dapat berputar (rotary kiln), digerakan oleh (1) tenaga manusia (manual) mengayuh pedal (RKM 1000L), atau (2). menggunakan mesin penggerak engine (RKE 3000L) serta, (3). menggunakan elektro motor listrik PLN (RKE 1000L) kini menjadi pilihan, Keperluan lahan bagi target 3 m3/ hari sampah, sebagaimana diatas, hanya 1,65 m x 2,9 m dikali 5 (lima) hari penguraian (dekomposisi), atau setara dengan 23,9 m2.

    BalasHapus
  3. satu instalasi Rotary Kiln terdiri 5 tabung kaps terbesar saat ini 2 ton atau 6 m3/ batch. Jika sampah kota kecil timbulkan sampah 250 ton/ hari, akan diperlukan 125 Instalasi. Dengan harga sekitar Rp 150 jt/ Instalasi, investasi diperlukan/ kota adalah Rp 18,75 milyar ( diluar bangunan tanpa dinding sekitar 100 m2/ lokasi instalasi).

    Setelah investasi mesin, biaya angkut sampah yang selama ini berlangsung dapat direlokasi kepada biaya pengolahan sampah menjadi kompos dan sortasi anorganik.

    Nilai investasi diatas maih setara dengan pembukaan TPA, namun Instalasi Rotary Kiln ini akan menghasilkan kompos dan aneka sampah anorganik.

    BalasHapus
  4. mohon infonya.. apabila akan melakukan pengolahan sampah skala perumahan kira2 untuk 20 rumah. dibutuhkan berapa modal dan alatnya? thx

    BalasHapus
  5. asumsi produksi sampah per jiwa 2,8 liter/hari, di 20 rumahx 5 jiwa @2,8 liter=300 liter per hari. Disarankan menggunakan 5 unit Hand Rotary x Rp 7,95 juta, detailnya bisa dilihat di http://www.kencanaonline.com

    BalasHapus

Silahkan pemikiran anda dituliskan !!

Visi Pengelolaan Sampah

Visi Pengelolaan Sampah
Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas (Masyarakat)

Rotary Kiln Elektrik RKE-2000L Bagi Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

Rotary Kiln Elektrik RKE-2000L Bagi Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
Tuntutan kepraktisan dalam pengelolaan sampah melahirkan inovasi baru komposter type Rotary Kiln Biophoskko® RKE 2000L. Agar makin menguntungkan, pengguna kini dapat memilih Rotary Kiln Elektrik (RKE 2000L) dengan keperluan daya 7 HP.

Komposter Elektrik KE-100 L Alat Olah Sampah di Rumah Tangga

Komposter Elektrik KE-100 L Alat Olah Sampah di Rumah Tangga
Tuntutan kebutuhan untuk makin praktisnya pengolahan sampah rumah tangga telah melahirkan inovasi baru komposter dengan proses menggunakan listrik ( elektrik)

Digester Biogas BD 7000L

Digester Biogas BD 7000L
Digester Biogas BD 7000L memiliki kekuatan menahan tekanan gas hingga 5 kg/cm2 dan memiliki daya tahan reaktor antara 10 hingga 20 tahun ini. Dibuat dari fiberglass bahan resin eternal 2504, jenis mat Wr 200 (mat anyam) dan mat 300 (acak), ketebalan 3 - 5 mm, mampu memfermentasi 3 m3 sampah dan biomassa setiap hari setelah siklus penguraian pertama 7 hari pertama. Sampah dan berbagai bahan organik (limbah peternakan, sampah makanan, sisa masakan, tinja/ feces, limbah kebun dan industri pangan) dapat terus menerus ditambahkan ke lobang pemasukan (intake chamber), dan akan diurai oleh bakteri metanogen (anaerobic activator Green Phoskko (GP-7). Proses awal, 7 m3, hanya 7 hari telah mulai mengeluarkan gas methana (CH4) dan tersimpan di bagian atas tabung atau reaktor biogas (gas holder).

Pemurnian Metan Biogas (Methane Purifier) MP 24150

Pemurnian Metan Biogas (Methane Purifier) MP 24150
Alat pemurnian biogas (methane purifier 24150) terbuat dari tabung logam stainless, diameter 24 inch ( 30 cm) dengan tinggi 150 cm, memiliki silinder media (berisi pellet penyerap 25 kg), memiliki kekuatan menahan tekanan lebih dari 10,5 bar, dan berkapasitas memurnikan aliran hingga 40 m3/ hari biogas hasil pembangkitan digester. Alat ini berfungsi sebagai pemerangkap (absorbers) karbondioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), dan air (H2O) sehingga menaikan komposisi kandungan gas metan dalam total biogas. Prinsip kerja alat pemurnian biogas ini adalah peran pellet penyerap (absorbers) terbuat dari campuran aneka mineral tambang yang teraktivasi dan termodifikasi larutan kimia, antara lain dengan basa kuat NaOH. Pellet penyerap pada tabung dapat diganti ( refill ) per setiap 2 (dua) bulan pemakaian atau diregenerasi dengan perlakuan tertentu hingga bisa digunakan sampai 1 tahun.

Genset Biogas BG 5000 W

Genset Biogas BG 5000 W
Generator (Genset) Bio Elektrik BG 5000 W berbahan bakar gas metan ini merupakan kelengkapan ( compatible) bagi digester type BG 7000L dalam mengolah sampah dan biomassa (aneka bahan organik) guna merobahnya menjadi energi listrik. Genset modifikasi ini menyediakan listrik dengan daya hingga 5000 watt. Pilihan penggunaan gas metan sebagai bahan bakar bagi pembangkitan tenaga listrik dari Genset Bio Elektrik, disamping secara konvensional sebagai bahan bakar menyalakan kompor juga mendukung usaha kecil UKM dan maupun perumahan dalam mendapatkan daya listrik secara murah. Penimbul sampah organik (tinja/feces, sisa masakan, sisa makanan/food waste, kotoran ternak sapi maupun ayam) serta biomassa lain ( gulma kebun, gulma air) pada rataan 3 m3/ hari akan sesuai bagi genset Bio Elektrik BG 5000 W ini. Dengan kehadiran instalasi BD 7000 L dan BG 5000 watt, penimbul sampah organik (restoran, food beverages hotel, peternak, restoran, perumahan, kawasan komersial mall dan pabrik) tidak perlu membeli bensin premium/ solar maupun membayar listrik bagi perolehan daya hingga 5000 W ( lebih dari 5 jam per hari) atau setara dengan 25 KWH ( kilo wattt hour) per hari.

Aktivator Pembangkit Metana Green Phoskko® [ GP-7]

Aktivator Pembangkit Metana Green Phoskko® [ GP-7]
Green Phoskko® (GP-7) Activator pembangkit gas metana (@ 250 gr/ Pack) sebagai pengurai secara fermentatif sampah dan limbah organik dalam digester kedap udara (tanpa oksigen) terbuat dari konsorsium mikroba anaerobik. Dalam lingkungan mikro yang sesuai dengan kebutuhan bakteri ini (kedap udara, material memiliki pH >6, kelembaban 60 %, dan temperatur > 30 derajat Celcius dan C/N ratio tertentu) akan mengurai atau mendekomposisi semua sampah dan bahan organik (limbah kota, pertanian, peternakan, feces tinja, kotoran hewan dan lain-lainnya) dengan cepat, hanya 5 hari. Kemasan Green Phoskko® (GP-7) dengan bentuk serbuk kering ini adalah Pack [@ 250 gr] kualitas karton duplex @ 250 gram kemudian dimasukan kedalam karton per 20 pack, total berat setara 5 kg+)

Kepercayaan LSM Internasional Pada Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

Kepercayaan LSM Internasional Pada Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
CHF Internasional di Aceh dengan gencar melakukan training pembuatan kompos dari sampah rumah tangga masyarakat Aceh
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cari Sampah Organik di Google

Memuat...